Thursday, February 28, 2013

ISTINJA'


Kata Pengantar

Allah telah menyempurnakan agama Islam dengan menjaga kitab-Nya sampai hari kiamat. Sebagai bukti penjagaan kitab dan agama ini adalah Allah akan menciptakan ulama pada setiap masa sesuai kehendak-Nya. Hal ini dalam dalam rangka menjaga agama, menghidupkan sunnah dan membimbing manusia kepada jalan yang lurus. Rasulullah SAW bersabda, "sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini dalam setiap abadnya ada kalangan yang memperbaharuai agama-Nya.

Dalam hadits lain ia juga bersabda, "Akan senantiasa ada dari ummatku sekelompok orang yang tampil dalam membela kebenaran. Mereka tidak membahayakan orang-orang yang menghinakan mereka sampai datang urusan Allah sementara mereka tetap dalam pendirian mereka".
Sejarah mencatat, di setiap masa yang dilalui ummat Islam, banyak tokoh-tokoh Islam yang muncul dan hadir memberikan kontribusinya pada perkembangan Islam di masanya, dengan tetap berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.
Saya Nurul Syamsiyeh sebagai pemakalah sangat berharap bahwasannya makalahs ini bisa bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya (pembaca) terutama saya pribadi. Dan ta’ lupa pula ucapan syukur saya panjatka kepada Yang Maha Kuasa karna berkah ridho-Nya saya bias menyelesaikan ini semua. Dan ucapan trimakasih saya ucapkan pada suami tercinta Bunyani S.Hum yang telah memberikan sumbangan dalam menyelesaikan makalah ini begitu juga dosen pembimbing yang saya hormati.

                                                                                                            Ganjaran, 12 Juni 2011

                                                                                                            Penyusun


                                                                                                            Nurul Syamsiyeh




Daftar Isi

Kata pengantar                                                                                    1
Daftar Isi                                                                                             2
BAB I Pendahuluan                                                                           3
BAB II Isi                                                                                           4
 A.  Cara Beristinjak                                                                           4         
B. Tata Krama Beristinjak                                                                  6
C. Hikmah -Hikma Istinjak                                                                 6
BAB III Kesimpulan                                                                          7
Daftar Pustaka                                                                                    7












BAB I
Pendahuluan


Suci dari hadast besar maupun kecil merupakan suatu perkara yang akan membawa kita dalam beribadah. Sebagaimana bristinjak yaitu memutuskan Sesuatu dari perkara najis atau kotor adalah suatu hal yang wajib.
Istinjak tidaklah sama dengan bersuci sebagaimana hal yang lain. Namun  istinjak hanya bisa dilakukan dengan menggunakan air mutlak dan benda-benda kesat seperti batu.
















BAB II
ISTINJA'
       Istinjak atau bersuci merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan kotoran dari diri seseorang dan hukumnya adalah wajib. Beristinjak atau bersuci disini tidaklah sama dengan seperti biasanya kita mandi sehari-hari. Tapi  Istinjak ialah menghilangkan najis yang keluar dari qubul dan dubur selepas membuang air kecil atau air besar.
       Dalam beristinjak tidak seadanya benda yang dapat digunakan. Namun istinjak bisa dilakukan dengan air atau batu dan benda-benda kasar yang sejenis dengan batu. Benda yang digunakan untuk beristinjak haruslah suci serta dapat menghilangkan najis. Akan tetapi dalam beristinjak lebih baik atau lebih afdol menggunakan batu terlebih dahulu, kemudian barulah diikuti dengan menggunakan air. Sebagaimana sabda rasul:
       Bila salah seorang antara kamu pergi buang air hendaklah beristinjak dengan tiga biji batu, kerana demikian itu cukuplah untuknya     (Riwayat An-Nasai dan Abu Daud)
 1.   Alat-alat yang boleh digunakan untuk beristinjak ialah:
(a)   air mutlak;
(b)   benda-benda yang kesat, keras dan kering seperti batu, kayu, daun kering, kertas, dan sebagainya.

2. Alat-alat yang diharamkan untuk beristinjak ialah:
(a)   bahan-bahan makanan seperti roti;
(b)   tulang-tulang binatang;
(c)   kertas yang tertulis nama Allah S.W.T., ayat­-ayat Al-Quran dan Al-Hadis.
 
A.  CARA BERISTINJAK
1. Istinjak boleh dilakukan dengan tiga cara yaitu:
 (a)  menggunakan air mutlak;
     i.     bersihkan tempat keluar najis hingga suci dan dan bersih
          ii.      pastikan hilang bau, rasa, rupa, dan warna najis tersebut.
     (b)  menggunakan benda kesat atau batu
     i.     hendaklah dicalitkan tempat keluar najis sebanyak tiga kali,
          ii.      jika menggunakan satu batu, hendak disapukan pada tiga penjuru batu  tersebut,
         iii.      sekiranya masih belum bersih, wajib diulang sehingga benar-benar suci.
 Beristinjak dengan benda-benda kesat mempunyai beberapa syarat, yaitu:
 (a) alat tersebut kering dan bersih;
(b) alat tersebut bukan daripada benda yang
(c) diharamkan seperti makanan atau yang seumpama dengannya;
(d) najis tersebut masih belum kering;
(e) najis tersebut tidak beralih daripada tempat asalnya;
(f) disapu sebanyak tiga kali, tetapi sekiranya belum bersih hendaklah diulang lagi sehingga bersih;
(g) tidak ada benda-benda lain yang melekat di tempat keluar najis.

     (c) menggunakan air dan batu;
    i.      menyapu tempat keluar najis dengan batu sehingga hilang najis tersebut,
          ii.     kemudian, dibersihkan dengan air untuk menghilangkan rasa, bau, dan warnanya
                   Cara ini adalah yang paling afdal jika dibandingkan dengan cara (a) dan (b).

       Sedangkan bagi orang yang memiliki hajat buang air besar maupun air kecil dianjurkan agar tidak menghadap qiblat atau membelakanginya. Terkecuali apabila terdapat tabir pemisah yang mencukupi, atau tinggi tabir tersebut mencapai 2/3 dzira’  atau lebih antara orang yang berhajat sebagaimana pendapat dari sebagian ulama, “jika demikian maka tidaklah dihukumi haram”.
        Orang yang berhajat menghadap ataupun membelangi qiblat tanpa adanya pemissah maka dihukumi haram. Seperti halnya sedang berhajat di tanah lapangan. Lain halnya apabila si penghajat berada disuatu tempat yang memang husus untuk membuang hajat, seperti halnya WC. Maka secara mutlaq tidaklah haram hukumnya. Sebagaimana pendapat para musonnif,”maka yang demikian itu juga pengecualian bangunan yang menjadi qiblat pertama, sperti baitul maqdis, maka menghadap ataupun  membelakangi qiblat tersebut hukumnya makruh.

        Disyaratkan pula bagi si penghajat agar tidak membuag hajatnya pada air yang tidak mengalir. Sedangkan apabila membuang hajat pada air yang mengalir tapi sedikit maka hukumnya makruh, jika air yang mengalir banyakmaka hukumnya tidaklah makruh. Namun lebih baik atau afdolnya jika sebisa mungkin tidak buang hajat pada air sekalipun mengalirnya banyak ataupun sedikit.
       Bahkan Imam Nawawi berpendap “haram hukumnya buang hajat pada air yang sedikit, sekalipun air tersebut mengalir ataupun berhenti”.Disamping itu orang yang membuang hajat juga dianjurkan agar tidak disembarang tempat seperti tempat umum contohnya jalan, tempat berteduh, di bawah pohon dan lubang- lubang yanga ada di bumi karna dihawatirkan terdapat hewan di dalamnya.

B. Tata krama beristinjak antaran lain:
a.       Tidak boleh berbicara hukumnya makruh kecuali darurat
b.      Tidakboleh menghadap  membelakangi matahari (makruh)
c.       Tidak boleh menghadap dan membelakangi rembulan (makruh)
Namun menurut Imam Nawawi tidaklah makruh hukumnya membelakangi rembulan ataupun matahari. (syarah kitab Muhadz-Dzab). Meninggalkan serta menghadap keduanya atau membelakanginya itu hukumnya sama saja yakni diperbolehkan (kitab Wasith). “sesungguhnya hokum makruh menghadapkeduanya itu tidak terdapat asalnya (kitab tahqiq).
d.      Selepas selesai beristinjak, kita disunatkan membaca doa memohon kepada Allah S.W.T. supaya kita tergolong dalam golongan yang bersih dan beramal soleh.

C. Hikmat-hikmat beristinjak termasuklah:
 
(a)   menjauhkan diri daripada kuman yang membawa penyakit;
(b) supaya badan dalam keadaan sihat dan bersih;
(c) dapat mengerjakan ibadat kepada Allah S.W.T., dengan khusyuk;
(d) mengelakkan daripada dipandang jijik oleh orang lain;
(e) supaya anggota badan tidak dijangkiti oleh pelbagai penyakit.




BAB III
Kesimpulan

       Istinjak atau bersuci merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan kotoran dari diri seseorang dan hukumnya adalah wajib. Dalam beristinjak tidak seadanya benda yang dapat digunakan. Namun istinjak bisa dilakukan dengan air atau batu dan benda-benda kasar yang sejenis dengan batu.
Istinjak boleh dilakukan dengan tiga cara yaitu:
1.      Menggunakan air mutlak
2.      Menggunakan benda kesat atau batu
3.      Menggunakan batu dan air



Daftar Pustaka
Ø DRs. H. Imron Abu Amar, 1982, terjemah Fathul Qorib, kudus, Menara Kudus
Ø www.com.istinjak

No comments:

Post a Comment